Swasembada Papan 2045 Jadi Strategi Besar Bangun Ekonomi Nasional

Swasembada Papan 2045 Jadi Strategi Besar Bangun Ekonomi Nasional
SHARES

JAKARTA – Sektor perumahan dinilai bukan sekadar urusan membangun rumah, tetapi menjadi pilar strategis untuk mendorong pertumbuhan ekonomi nasional hingga 8 persen. Gagasan besar tersebut mengemuka dalam peluncuran dan bedah buku Indonesia Menuju Swasembada Papan 2045 karya Fahri Hamzah di Menara 2 PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk, Kamis (21/5/2026).

Berdasarkan siaran pers yang diterima redaksi, Minggu (24/5/2026), acara tersebut menjadi forum diskusi strategis yang mempertemukan para pemangku kepentingan sektor perumahan. Hadir dalam kegiatan itu Ketua Satgas Perumahan Hashim Djojohadikusumo, Fahri Hamzah selaku penulis buku sekaligus Komisaris BTN, serta Direktur Utama BTN Nixon LP Napitupulu bersama jajaran direksi BTN lainnya.

Hashim Djojohadikusumo mengapresiasi peluncuran buku Indonesia Menuju Swasembada Papan 2045. Menurutnya, visi tersebut sejalan dengan gagasan besar para pendahulu dalam memperluas akses hunian murah dan menjadikan sektor perumahan sebagai bagian penting pembangunan ekonomi nasional.

“Ini adalah kerja panjang yang melibatkan antargenerasi. Satgas Perumahan kini tengah mengorkestrasi strategi besar untuk mempercepat program 3 juta rumah. Fokus kami jelas, memastikan program ini tepat sasaran bagi masyarakat berpenghasilan rendah (MBR),” ujar Hashim.

 

Meski baru sekitar satu setengah tahun menjabat sebagai Wakil Menteri PKP, Fahri Hamzah telah melahirkan karya literatur yang membahas secara mendalam persoalan krisis hunian dan ketimpangan kepemilikan rumah (backlog) di Indonesia.
Fahri menegaskan, cita-cita besar yang ingin diwujudkan adalah seluruh rakyat Indonesia terbebas dari persoalan hunian pada 2045.
“Swasembada papan adalah harga mati jika kita ingin membangun fondasi sosial dan ekonomi masyarakat yang kuat ke depan,” kata Fahri.

Ia menilai program 3 juta rumah bukan sekadar proyek properti biasa, melainkan bagian dari strategi transformasi bangsa dalam skala besar.

Fahri juga mengungkapkan, angka backlog perumahan di Indonesia masih berkisar 10–12 juta unit. Selain itu, sekitar 20 juta masyarakat masih tinggal di rumah tidak layak huni (RTLH).

“Bahkan sekitar 6 juta orang tinggal di rumah yang tidak layak dan rumah itu pun bukan milik mereka sendiri,” ungkapnya.
Sebagai motor utama pembiayaan perumahan nasional, BTN memastikan kesiapan mendukung roadmap menuju Swasembada Papan 2045. Direktur Utama BTN Nixon LP Napitupulu mengatakan, pihaknya terus menyusun strategi pembiayaan inklusif agar akses hunian dapat dijangkau seluruh lapisan masyarakat, baik pekerja formal maupun informal.
“Kami menyusun peta jalan strategis ini agar tidak ada masyarakat yang tertinggal. Sinergi antara Satgas Perumahan, kementerian, dan BTN akan menjadi kunci utama mewujudkan Swasembada Papan 2045,” ujar Nixon.
Salah satu solusi yang ditawarkan BTN ialah penyediaan pembiayaan rumah murah dengan tenor panjang, mulai 20 hingga 40 tahun. Langkah tersebut dinilai penting untuk menjaga keterjangkauan masyarakat berpenghasilan rendah di tengah kenaikan harga hunian.

Nixon menambahkan, tantangan terbesar industri perumahan saat ini adalah menghadirkan sumber pendanaan jangka panjang dengan biaya murah dan tetap terjangkau bagi masyarakat.

“Bagi BTN, indikator utama pembiayaan murah adalah keterjangkauan (affordable). Tantangannya adalah merumuskan instrumen pembiayaan agar cicilan rumah tidak memberatkan rakyat,” tegas Nixon

(Melisa. S)

Redaksi 24hours.id

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *